Meniti Jejak Hati 2   1 comment

Buleleng

Tuesday, May 20th ‘08

Buleleng, Singaraja

Buleleng, Singaraja

Sore yang tak terlalu mendung mensituasikan hati yang akhir akhir ini diselaputi rindu yang tak lagi sanggup dibendung. Rindu kepada situasi pada sebuah Sore pada awal Ramadhan 1427H, 22 september 2006, di Blok E Tjg. Sengkuang kota Batam.

Aku baru saja kembali dari markas Mabua Express mengantar sang Bunda yang datang sabtu kemarin untuk berlibur, kata yang selalu dipakai sebagai alasan lain dari rutinitas bulanannya, menjengukku. Ku hisap rokok sebatang, duduk pada balai kecil depan rumah. Ada lenguh halus mengiringi kepul asap yang keluar dari hidung dan mulut. Sepertinya Hati sedang mendilema. Sebab riuh gadis gadis tanggung diluar pagar tak sempat mencipta cabang pikír dan rasa untuk membagi perhatian. Gamang yang tiba tiba saja hadir, bercelaru. seolah memekikkan kata kata “bulatkan tekad…. Dan pergilah!”

Ku merogoh amplop berisi Tiket kosong, Denpasar-Batam yang diam diam Ku pesan seminggu yang lalu saat rindu menabuh genderangnya jauh lebih dahsyat dari biasanya, saat Ofie (bukan nama samaran), menelponku jam 7.25. WIT. Tulisan Lion Air dipermukaan amplop seperti berkecai dalam pandanganku, menari nari, mencemo’oh dan.. seolah membentuk beberapa formasi kalimat yang kurang lebih satu jam lalu terwanti wanti dari mulut mamaku. Pandangku hilang sinar. Pendar pendar kecil berporia persis didepan keningku yang panas.

“Tuhan!” ku mendongak. “Apapun yang terjadi, Aku harus pergi. Tak Mungkin mimpiku semalam, dalam satu jam tidurku ‘kan menipu perasaan. Dia pasti bisa Ku temukan. Dia sedang dijalan itu…. Jalan dimana kaki Kami melangkah seirama, menuju satu tempat indah, tempat cinta Kami berlabuh sejenak sebelum kembali melayari Samudera benci dan maki keluarganya”

“Tapi bagaimana dengan puluhan pasal yang didekritkan mamaku beberapa jam silam?” kata hati menimpali.

“Ach…” beringas itu mulai kambuh. Tak sadar salah satu ponsel menempel ditelinga kanan. Tak terlalu jauh disana, suara kakek-ku terkekeh. “He eh eh eh…. Ada apa lagi anak muda nakal?”

“Kek, gimana?”

“Apanya yang gimana? Anak muda koq gak pulang kesini ngasih tau orang tua. Mamamu udah….”

“Ini, tiketnya mesti diapain enaknya kek? Mamaku ngotot!” Aku nyalib.

“He eh eh eh eh” Ia terkekeh lagi. Panjang. Mungkin sampai terjungkal dari korsi goyangnya. “Orang tua udah seringkali bilang, udah, pergi aja! Mamamu kalau didenger semua ya anak mudanya yang keteter. Udahlah, Kakek tanggung jawab!” Intonasi kalimat terakhirnya serius dan terdengar bijak. Tak lupa dalam dialek Bali yang pekat.

“Kakek serius?” kejarku.

“Emm.. Pergilah! Tapi tanggung jawab Kakek expired sampai minggu depan”

“Kok seminggu sih kek?”

“Jadi?” ketusnya

Aku terdiam. Belum tau harus menjawabnya dengan apa. “Sewindu?” Ia bertanya lagi. “Paling nggak, sebulan atau….”

“Heh heh heh… Mending anak muda kesini sebentar. Ada kabar bagus” “Apa’an tuh?” sahutku. “Sini aja, mau gak?” ia mengancam.

“Ok!”

Becak Hitam DR 490 N kumal itupun ku pecut tidak jauh dari 80/km. Terdebar kira-kira 11 pertanyaan seputar kabar bagus yang dilontar Gusti Mahardika (bukan nama sebenar), Bapak dari mamaku. Namun entah…. tidak ada yang meyakinkan kecuali, “Paling Ia nambahin uang belanjaku ke dan di Batam nanti” canda hatiku datar.

Ruas jalan Imam Bonjol sudah berujung. Ku nge-lighting kiri memasuki jalan hitam kecil perumahan penduduk Kota Singaraja. Bule bule yang kebanyakan duit tapi tak cukup untuk membeli busana yang bisa menutup barang bawaannya, hilir mudik didua belah trotoar. Pemandangan yang sudah sangat tidak asing lagi.

Senja sudah terlihat dikejauhan. Ia kembali menunai tugas mengenyah terang siang. Tiada penat-penatnya. Seiras dengan hati bodoh yang tiada pernah mengambil cuti dari merindukan seorang yang jauh. Walau hanya seketul dari hitungan tahun sepeninggalnya.

“Auu syit…” teriakku sembari menerjang pegas rem. Kori (gerbang) angker batu alam serba hitam itu terlewatkan lebih kurang 10 meter. Padahal, setengah sadar Aku mendengar teriakan sang Kakek yang berdiri menungguku.

Memakan waktu 2 menit lebih, Aku sudah duduk dihadapan Orang tua yang terkenal dengan Kekeh gurihnya. Walau sesekali Ia senyum, namun wajah seriusnya tak dapat disembunyikan. Terbersit sekali lagi segala jenis tanya kenapa dan sedang ada apa. Namun begitu aku berusaha cuek, dan nge-ringing-kecilkanl “Aku Hanya Ingin Kau Tahu”, Repvblik. Kaki, dengan sepatu butut yang tak pernah dicuci menghentak permukaan marmer putih kebiruan yang memenuhi ruang tamu bekas Politikus handal didepanku. Cuek, masa bodoh dan apapun yang terjadi! Begitulah lukisan suasanaku saat itu. Sementara diluar, tak terasa gelap sudah mengitamkan warna hijau dedaunan cemara halaman rumah.

“Ini minumnya nak Once, (asli palsu nama ini Aku kurang tau)” mbok Yam meletak dua gelas teh hangat.

“Ya, makasih mbok” ucapku bergelombang sebab kepalaku terus saja bergoyang mengikuti rentak kakiku. Dan…. Bapak tua masih diam. Diam. Hanya memandang gelagatku dengan…. sepertinya dengan sangat heran. Heran karena mungkin Aku enjoy aja.

“Tadi….” Ia memulai. “Mamamu ngasih ini ke Kakek” seraya meraih dua gulungan kertas diatas tumpukan Bali Post, Ia berucap datar. Sangat datar. Nuansa sedih dan kecewa sangat kentara dibalik intonasi yang melambari kalimatnya.

“Surat warisan Kek” tanyaku slumber. Tak ada beban sama sekali.

Ku meraih dan membacanya. Hanya daftar bulan dan hari pada akhir tahun 2007 dan 2008. Dikolom paling kanan tertulis dominasi kata Absen. Masuknya hanya beberapa.

“Penghianat!” hentakku geram. Padahal Aku masih ingat anggukan I Wayan Budiartha (bukan nama asli), fakar management yang memberiku kursus tiap hari kecuali Minggu dan terutama, hari hari malasku. Dengan sesungguh hati Kami telah membuat perjanjian pribadi meski tidak hitam diatas putih, agar merahasiakan segala kebejatan -begitu Aku menyebutnya-. Karena percuma Aku rasa sebab, Dia pun sudah sangat mengerti dari apa yang selalu menjadi pertanyaanku bukan tentang bagaimana me-manage sebuah perusahan bubur kaCang ijo misalnya, melainkan menejerial seputar akan pernah mampukah hati ini mengelola diri ditengah jahat dan derasnya kisar serta pusar aniaya rindu. Akan bisakah ia tidak segera me-layu dan kemudian mengelolaku dengan status antara hidup dan mati.

“Penghianaaat penghianat!” lontarku, melangkah keluar seraya merogoh ponsel butut yang dulu pernah dipakai gadis Batam itu.

“Ma’af ya, ma’aaaf” ia berucap mendahului ‘Hallo’ yang belum sempat Aku katakan.

“Oo begini caranya pak ya..? Gak apa-apa, Aku siCh ga bisa bilang apa apa kecuali mulai besok kontrak ini dibatalkan”

“Sebaiknya begitu Mas, kan sportif. Saya gak makan gaji buta lagi, kasihan Bu haji selama ini Saya bohongin. Dan ini demi kebaikan Mas juga”

“Tut!” tombol merah Ku tekan penuh ambisi. Bila perlu sampai jebol menembus Printed Circuit Board-nya.

“Bertambah satu lagi kekecewaan Mamaku, Keluargaku” hati menggumam. Prinsip 3D, Degil Dengan Disiplin- yang Ku coba terapkan agar kekecewaan mereka tidak ada lagi tak mempan. Mereka pun ternyata memiliki system WasKat yang tangguh. Sebab belum ada kebejatanku yang lepas dari intaian mereka. Kerjasama dengan BIN Aku rasa tak mungkin.

“Jadi Kakek juga mau marah, silahkan!” ketusku duduk kembali didepannya.

“Selama ini Kakek pernah melakukan itu?”

“Ya, siapa tahu ini yang pertama dalam sejarah”

“Kakek percaya bukan logikamu yang berperan dalam segala bentuk kedurhakaanmu kepada orang tua. Akalmu sedang dipijak-pijak oleh perasaan yang…. sesungguhnya tak perlu kamu ikut hingga larut. Kalau Kakek boleh tahu, apa yang kira-kira bisa membuat akalmu bertahta paling tinggi dalam elemen pikir dan prilakumu?”

“Kebebasan!” jawabku lebih cuek lagi.

“Makna kebebasan itu?”

“Hidup, menghidupi hidup sendiri di Batam sekalian menemukan anak itu. Ketika itu sudah terjadi, Saya yakin, proses Completly reformatting dalam pengaturan struktural jiwa dan raga ini akan kembali seperti semula. Fitrah, agama saya menyebutnya. Dan Saya perlu hijrah demi proses tersebut”

“Ok, Kakek ngerti. Tapi ada tidak, kata konci lain selain gadis Batam itu?

“Sejauh ini, belum ada Kek”

“LuCh, Ayu dan….”

“Itu tidak penting dibicarakan. Sia-sia!”

“Sebegitunya?”

“Begitulah kenyataannya”

“Ok ok! Dimengerti. Atas nama perubahanmu, Kakek siap kena semprot Mama dan Kakakmu. Kapan renCananya?”

“Lebih cepat lebih akurat Kek”

“Besok pagi?”

“Iya, besok pagi!”

“Boleh Kakek minta oleh-oleh?”

“Ada tambahan modal emangnya?

“Itu dijamin. Tapi yang Kakek pinta bukan butuh duit untuk membelinya”

“Maksud Kakek?”

“Bawa gadis Batam itu ke rumah ini”

Aku melongok. Menatap ornament profile gypsum yang melingkari bola lampu ruangan seluas -+5×6. Ada rasa berbinar, karena bagaimanapun, ditengah anjangsana dunia yang keseluruhan penontonnya tidak ada yang mendukung fenomena cinta yang ku alami, Masih ada seorang Kakek butut yang diam-diam mengikuti jejak dari tapak tapak hati yang selama ini melunta.

“Terimakasih Kek.. Terimakasih” Aku melepas pelukannya dan melangkah memasuki becakku disaksikan Mbok Yam yang berdiri dipintu seraya sesekali ujung tudungnya mengusap butir-butir bening air matanya.

Pages: 1 2 3

Posted 28 June 2008 by dhianofie in About Me & Ofie, Batam'sTragedies

One response to “Meniti Jejak Hati 2

Subscribe to comments with RSS.

  1. Berkeyakinan,,,, Bahwa cerita ini hanya Fiktif.

    “Jika cerita, nama dan tempat kejadian kebetulan sama itu hanyalah kebetulan yang mungkin dibetulkan!”

    *#seperti diceritakan oleh seseorang kepada penulis#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: