Dipinggir Jalan Itu   2 comments

Gentayang hatiku nahas, mengenaskan, jatuh dan terjerat didirimu sejak bulan suci itu datang menjaja benih fitrah baru.
Dipinggir jalan itu.

Senja terlihat tak jauh dari sorot mata. Ia datang menatang kelam, mengenyah benderang siang saat Kita memadu sua kedua. Kita bicara memberi asal menukar usul. Dan engkau memintaku terbiasa menemuimu, bersamamu. “Sama Nofie santai aja” ucapmu manis. Sangat manis. Namun pepohonan yang melambai disamping Kita, Sepedamu, motor butut orang tua angkatku dan Kak Doni (bukan nama samaran) -mu, sepertinya menangkap gerikku… Terasa lambai daunnya kian kencang, berupaya mengurangi rasa grogi dihati.
Jujur saja, Aku memang grogi saat itu. Tapi rasa bahagia sedang dan belum dapat Aku ejawantahkan, karena senyumku yang hilang, wajahku yang langgang, pada dirimu ia melekat.
Ku temui sudah… dipinggir jalan itu.

Pada lempeng jiwa paling dalam, segerombol asa yang terlalu lama terkungkung jauh dipalung relung, bangkit. Mereka berpestaporia, meloncat-loncat, teriak dan tertawa. Layaknya kaum halus sejenis suku hantu yang bertahun-tahun tidak diijinkan menyungging bibir, mencipta senyum dan mencicip bahagia.
Aku sendiri…. berdoa dengan seuntai desis tulus “Semoga Kau datang sebagai selayang tenang yang terbang dari surga paling tinggi, dengan anggun mengambil, menguasai serta meredam segala gundah hati. Semoga Kau datang, sebagai jawab dari semua mengapa selama ini.”
Gerombolan asa dalam elemen Aku-ku senyap sekejap. Mereka melanjutkan pestanya setelah tawadlu’ meng-amini doaku.

Aku yang telah sangat menyadari pernah memiliki dan kemudian kehilangan, sesungguhnya belum ingin memiliki lagi. Tapi ketika Ku tatap rajah dihati, -Engkau dan juga Aku telah sama-sama sedia, siap menyingsing lebatnya belantara. Merambah, memasuki. Sayangnya Kita tidak istirahat sejenak, ‘duduk bersama’ (bahasa populer di Yayasan Mesjid Nurul-Jamaah-mu) sembari berpikir, bertanya…. Akankah Aku, -Kita tidak bakal kehilangan lagi???

“Tidak!!!” hatiku melingkar tekat. “Aku tidak akan lengah. ‘kan Ku jagamu seperti jiwa ragaku sendiri” sambungnya.
Maka kepadamu wahai Waktu ketahuilah…. Didepanku kini tengah berdiri seiras wajah dan senyum yang dulu pernah Kau rampas, berjanjilah untuk mulai belajar dari sejarahmu, sejarah Kita, agar itu tak terulang kembali. Bila mungkin Kau tidak siap, sudilah berhenti sejenak, 100 tahun ke depan. Biarkan Kami tak berpisah. Restui Kami dijalan ini meski terpuruk dalam terik siang, jahat angin malam dan juga tangis Langit. Atau…. Kiamatlah!

Senja lalu lalang. Seruan Maghrib dari suara Khas Ustadz Doni Kwartino kakakmu, yang minta diri 10 menit lalu berkumandang tega….
Doni,,, sekali lagi Doni. Ia tak sanggup melerai adu tatap Kita. Hanya permisi dan tidak mengajakku. Ia pergi melaksanakan tugasnya sebagai prayer caller di Mesjid Nurul Jamaah, tempatku nguli kasar. Tukang bangunan. Doni… Terimakasih sahabatku. Kaulah yang berandil dalam maha dahsyatnya cerita cinta ini.. Semoga cita citamu tercapai.

Tak ayal, saat yang mencipta rasa gundah pun tak dapat dielak. Anak anak RT 05 yang hendak ke Mesjid, satu persatu melewati jalan yang seolah milik Kita berdua saat itu. Hal ini membuatmu merasa harus segera pulang, selain penghuni deretan rumah disamping kiri bawah badan jalan menuju rumahmu terasa seperti sedang menggerutui Kita.

Engkau akhirnya berlalu mengayuh sepedamu setelah memodaliku dengan satu lagi senyum pamungkasmu yang langsung mentahtakan diri dilapis hati paling dalam tampa menunggu restu logika-ku. Aku ingin Kau maklum bahwa bekal itu belum habis. Tidak habis habis. Ia menobatkan diri sebagai tirani, otoriter dan atau penguasa tunggal dari hampir keseluruhan wilayah negeri hati. Engkau penjajah…. yang pergi menjelajah, mengekspansi janji, dan membiar saja bala tentaramu menunai tugas. Wajahmu, senyummu, segala tentangmu!

Aku pandir. Aku nahas. Aku sial. Aku, pemimpin kaum pecundang. “Lagi lagi… AKU KEHILANGAN LAGI” dan setelah kini semuanya lantak, Adakah masih Kau regam Cemplak itu (?);
~ Dengan jemari janji yang Kita jerat erat dipantai pekat itu,
~ Dengan burai tangis yang Kita derai disetiap gelepah pagi,
~ Dengan Merah raut keluarga, teman, tetangga dan separuh masyarakatmu…. Adakah???
~ Juga, dengan guyon atau mungkin ketidaksengajaan jaman melalui laju dan kekarnya kelebat kepalan realita yang menindih jauh senyum itu dibawah lempengan kekuasaan hukum alam sehingga Kita sedemikian tidak mungkin untuk bersua kembali, sedetik saja?

Terlalu agung kasih sayang ini meski Ku tahu Ku tak daya mengayun kaki memikul budi sekaligus menyeruak belukar duri yang ditanam Keluargamu sebagai hukum haram sua Kita, Cinta dan sumpah kita. Betapa Ku elu senyummu tiba tiba menjambak gundah panjangku, sepi dan aniayaku. Tapi sadar, atau entah gila…. Dunia seperti nyaris mengetuk palu sebagai vonis mutlak bahwa ia akan menyejarahkannya sebagai keajaiban dunia ke tujuh setengah, jika senyum itu menjadi milikku.

Setiap waktu Ku memohon Sudilah Sang Esa meng-Kun Fa yakun-kan suatu gerak demi kembalinya hati yang diboyong pergi olehnya. Namun Dia berkebijaksanaan lain. Amat lain. Paling tidak kurang setuju. Ini mungkin satu kebijakanNya yang pertama kali ingin Ku coba pertanyakan beberapa saat sebelum Dia maha marah marah -Na’udzu Billah- sebab balanCe usia dan hitungan waktuku lebih banyak Ku habiskan untuk mengenangmu.

Lantas!
Jika engkau sekedar masih ingat kepadaku, seindah dan semanis apapun katakanlah betapa sangat benCimu padaku.
KebenCianmu, atawa apapun selagi ia berupa kepastian. kini berharga intan berlian bagiku karena Aku setidaknya tahu apa yang mesti Aku tempuhi pada pagi esok. Ku ingin kekuatan kata itu persis menyamai zat kimia berhulu ledak tinggi (high explosive), yang mungkin…. sekali lagi mungkin sanggup meletupkan gugusan kenangku tentangmu.. Yang mampu kembalikan sadarku seperti sebelum Aku mengenalmu.. seperti juga waktu yang terlalu bodoh, yang tak tahu sama sekali tentang perasaan rasa yang terzhalimi rindu. Seperti merapi yang duduk santai kemudian terlelap, pulas keletihan, atau pingsan karena baru saja ia memuntahkan penyakit panas yang terpenjara ratusan tahun dalam lambungnya.

Dan lalu Samudera akan tenang karena ombaknya tiba-tiba pergi ke satu tempat yang jauh menjalani anggukan hukum alam yang diralat Pencipta. Seperti api yang kehabisan sakti karena tidak lagi mampu memanaskan air, atas kedip kuasa Tuhan…. Dan atau seperti mungkin dan kemungkinan yang sebelumnya tak bisa dipinta siapapun, mendadak datang memikul mungkin yang diharap pemungkin. Terakhir seperti apa yang Aku harapkan tentunya. Tiada lain. Tiada sebaliknya.

 

Sayang…. Jika (semoga) engkau merasa malas untuk mengatakan itu, atau enggan, malu atau justru merasa berat…. tentu betapa mudah bagimu untuk mengatakan engkau masih sayang kepadaku. Katakan juga engkau sedang berada diujung dunia paling ujung sekalipun, maka tunggulah sejenak, Aku dan segalaku akan segera datang menyerahkan diri, hidup untuk mati bersama ridho Tuhan. Sebaliknya menjemputmu, membawamu ke Surga yang dulu pernah Aku janjikan. Bagaimana sayang…..?

 

Engkau pernah memohon Agar Aku jangan pernah mengganti nomor telefon. Dan itu Ku taati sayang…. Nomor itu masih menunggu sms atawa miss(ed) call-mu. Ingat! Wajahmu, Senyum dan tangismu masih Ku simpan rapi disatu tempat paling pekat yang tidak satu orang pun sanggup menjamahnya.

Pergilah!!!!

Datanglah!!!!

Ke Pinggir Jalan Itu?

Jalan menuju rumahmu.      

Posted 11 June 2008 by dhianofie in About Me & Ofie

2 responses to “Dipinggir Jalan Itu

Subscribe to comments with RSS.

  1. Mantap yach… Mengharukan. Serasa pingin munt… Ach ga ach. Ogah!

    Catatan untuk Blee:
    tunggu saat kualat itu datang mengantar expresi kekecewaan orang tua. Tetaplah di Batam. Jangan pulang-pulang!

  2. Tiada kata tepat utk menggambarkan cukupmu kecuali aku hrs melawan hukum kekurangan makhluq hidup,, ‘kau sempurna’. Betapapun, kesempurnaan itu mengguruhkn nyaliku bukan utk berjuang memilikimu melainkan takut. Karena aku bkn sdg brsama aku ku. Ia pergi jauh mungkin tak ‘kn brpaling.
    Jika ini kentara sbg sbh alasan ketidakbecusanku tk mencintaimu,, tlg itu disilang benar. silahkan beri aku sedikit dari rasa belasmu, disitu aku ingin dapatkan pengertianmu. Tahtakan logika setinggi sempurnamu. Dan sadari aku busuk seperti limbah dibawah rumahmu,, dan bahwa aku sdg berjalan menuju kebinasaan.. Aku berharap kau adalah bingkisan Tuhan utk sisa usia. Agar tak tersia. Melangkahlah.. Terus dan terus. Dapatkn cinta itu diruas jalan menuju masa depan.. Cinta akan menjadi indah dn sejati jika kita tidak pernah berhenti berjuang mendapatknya.. Cinta sebagai cinta yang mencintai cinta.. Bukan
    5 jari dengan telapak yang mencoba mendamprat angin.. Hanya hampa, kecewa dn gersang..
    Tuhan sebagai saksi bahwa sungguh aku ingin mencintai cinta.. Karena nafsuku haram menolak raga sempurna. Namun,, seperti juga kamu, aku pun berjuang dalam diam utk bs melakukannya. Kesuksesan akhir juang kita tergantung waktu pd esok dn smua lusa, apakah ia akan menghidupkan kembali hati yg mati, hilang, tak brfungsi ato.. Jika kau mampu lakukanlah. Aku tunggu kau di semua pagi, meski disana mentari sedang bercuti.. Aku tak memilih siapapun dari jenismu.. Asal saja ia sanggup lumpuhkan baja rindu dihatiku utk seorang yang jauh, ku janji akan memberikanmu hidupku.. Bersama didua dunia. Jika kau merasa juangmu adalah kebenaran, tempuhi ia dengan cara dan jalan benar. Sucikan sucinya dengan jujur dan jiwa besar yang luhur.. Karena sebagaimana aku dalam perjuangan mendapatkan kembali cinta yang minggat,, atau justru mencampaknya, kau juga berhak disetujui hukum dan undang2 manapun..
    Jgn toreh luka ini.. Membiar simpati jatuh jauh ke palung bumi. Sulut Lilin dan berhenti mengutuk kegelapan.
    Aku diblakangmu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: