Warna Ramadhan
Ramadhan sudah dua minggu berlalu. Suka duka, tangis tawa dan juga kebahagiaan menghinggapi setiap jiwa.
Dalam ruang lingkup nasional, Ramadhan kali ini banyak diwarnai oleh kenaikan-kenaikan harga sembako, Elpiji dan lain-lain diberbagai kota. Kelangkaan minyak tanah juga masih menjadi mata-rantai problema dapur rakyat sampai bulan puasa ini dan seterusnya.
Para pencari keuntungan pun tak luput beraksi lebih. Mulai dari daging gelonggongan, ayam suntikan dan acara timbun-menimbun barang-barang komersial yang harganya telah diprediksi bakal naik.
Bersamaan dengan itu banjir pun sepertinya tak henti menjadi bukti peringatan Tuhan kepada kegagalan pengelola alam. Indonesia perlu berbenah dan ber-Istighfar Nasional.
Dilingkungan sentra kekuasaan dimana hukum sedang nampak sangat tertatih, telinga kita nyaris pekak dengan berita-berita tentang Korupsi, Kolusi dan Manipulasi. Tarik-menarik antara begitu banyak kepentingan baik di areal politik,hukum, ekonomi, sosial-budaya dan lain-lain telah menempatkan ‘Wong Cilik’ sebagai korban utama. Imbasnya gentayang ke seluruh aspek kehidupan di seantero Nusantara. Angin ribut ini tentu tak berpengaruh terlalu besar kepada mereka yang besar. Artinya baik secara ekonomi maupun hukum, seringkali para pejabat dan konglomerat itu tak bergeming karena pondasi ekonomi serta pengaruh posisi mereka yang cukup kuat. Konotasi lain adalah Iman dan Ideologi. Mari tingkatkan Iman. Mari membangun Ideologi Islamiah, hingga hanya karena itu kita tidak bakal digemingkan oleh proses tarik-menarik yang muncul dan serta angin jahat yang datang dari manapun.
Indonesia sedang sangat membutuhkan ampunan dan petunjuk Tuhan guna melambari tujuan suci untuk merubah diri menjadi Negara yang bermartabat , adil makmur, aman dan sejahtera.
Telah ditetapkan begitu banyak warna yang tidak diperbolehkan bukan saja dalam bulan Ramadhan tetapi pada semua bulan dalam jangkau usia kita. Namun bulan Ramadhan ini sengaja diciptakan secara Khusus sebagai sebuah arena waktu dimana kita diharuskan mengevaluasi diri, menentukan berapa persen hitam dan putih yang telah kita coret pada 11 bulan sebelumnya. Walau dengan materi dan suasana yang jauh lebih ditekan, akan tetapi Allah juga melambari Ramadhan dengan nuansa khas yakni Barokah dan kebahagian hidup hingga bagi jiwa pemenang, Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nanti dan seakan-akan jangan pernah habis. Kita dituntun selangkah demi selangkah seiring bait hari puasa agar kita dapat melewatinya dengan sabar,ikhlas dan penuh syukur demi meraih kemenangan yang dijanjikanNya. Target kita adalah meraih gelar Mukmien Muttaqien sebagai modal spiritual utama kita dalam bergelut dengan hidup pada 11 bulan berikutnya dan pada akhirnya dapat meraih target utama yakni RidhoNya. Sangat cocok jika bulan ini juga kita jadikan sebagai ajang mengasah kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ= Emotional and Spiritual Quotient).
Bulan Ramadhan harus diwarnai dengan hidup damai, penuh kesabaran, jujur dan ikhlas di dua zona yakni vertical dan horizontal. Inilah saatnya kita mesti menikmati hidup penuh keceriaan dengan tidak melupakan sebuah proses yang disebut berbagi bahagia buat semua, bagi sesama, walau hanya seulas senyum kecil.





dan tentu….. warnaku masih penuh celaru! Tuhan,,,, Ampuniku!