Dirgahayu….

2008 August 18

 Dirgahayu Republik Indonesia, kini tertulis dimana-mana, terlontar dari berjuta mulut baik di Nusantara maupun dibelahan dunia lainnya. Begitu antusias rakyat Republik ini merayakannya dengan berbagai macam perlombaan mulai dari panjat pinang, makan kerupuk, lari karung, lari gendong bahkan sampai lomba makan cabai seperti yang terjadi di Padang Sumatera barat, yang sebetulnya tidak memiliki nilai dan mutu yang bisa menunjang kehidupan rakyat untuk dua tiga hari ke depan.

 

Hanya saja yang memang patut disyukuri adalah adanya semangat dan Nasionalisme serta rasa syukur atas jasa dan perjuangan para pahlawan.

 

Setelah 63 tahun kita merdeka secara fisik, bukan saja dihari ini orang sibuk melontarkan kata tanya Sudahkah Kita Merdeka secara Kaffah?” Jauh sebelumnya kalimat-kalimat ini sudah terlampau sering kita dengar. Merdeka secara Ekonomi, Politik, Budaya, Hukum dan lain-lain. Dan memang, kita masih belum mendapatkan itu.

 

Saya selalu mengatakan belum bisa menyatakan diri  “Bangga Menjadi Anak Indonesia”.  Bukan tidak mau tapi memang belum bisa melakukannya dengan sadar dan tulus. Sesungguhnya bukan karena tidak bersyukur atas kemerdekaan dan kehidupan ala kadar yang di anugerahkan Allah kepada saya dibawah naungan Merah Putih akan tetapi lebih bertendensi kepada adanya oknum dan atau pentolan-pentolan negeri ini yang tidak bisa mensyukuri kemerdekaan ini dengan sama-sama bahu membahu membangun Indonesia dengan rasa tanggungjawab yang tinggi, bersih dan yang terpenting bias berhenti merampok uang rakyat. Jika mereka menyadari dan memiliki rasa syukur sebagai ejawantah dari bebasnya negara ini dari bajingan penjajah, Insya Allah mereka bisa mengemban tugas sebagai wakil, pembela, an atau pemimpin rakyat kecil.

 

Tidak pernah bisa tegaknya supremasi hukum, keadaan politik dan ekonomi yang carut marut serta  dan terkontaminasinya budaya dan kehidupan rakyat yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan hasil pembangunan serta kebijakan-kebijakan pemerintah adalah beberapa hal yang tentunya sangat tidak membanggakan. Mengapa negeri ini harus berlangganan dengan para demonstaran setiap hari adalah bukti bahwa kita masih sangat tidak perlu merasa berbangga hati dan berpuas diri dalam mengisi kemerdekaan ini.

 

Dari sekian banyak definisi Nasionalisme yang akhir-akhir ini banyak di gembar-gemborkan, dalam konteks kekinian saya rasa tidak berlebihan jika harus ditambahkan bahwa Nasionalisme juga: Berani berbicara lantang sekaligus bertanggungjawab terhadap segala bentuk kebijakan pemerintah yang tentunya tidak berpihak kepada rakyat. Rela turun ke jalan dengan kesadaran dan niat suci hanya demi  rakyat, karena Allah, tampa ada embel-embel lain, tampa ada oknum-oknum yang mem-propaganda -apalagi yang istilahnya mendapat uang dari oknum-oknum yang berkepentingan- serta tidak berbuat anarkis) demi tercapainya perubahan yang signifikan. Tidak Korupsi, Manipulasi atau segala jenis yang berkaitan dengan kegiatan merugikan rakyat kecil. Berani melawan ketidakbenaran prilaku terhadap aparat maupun pejabat sekalipun, jika ternyata terbukti mereka merugikan negara dan rakyat. Nasionalisme bukanlah  menjadi seorang yang menatang senapan kemana-mana. Nasioalisme juga bukan menjadi seorang pejuang yang diupah negara jutaan Rupiah tiap bulan lalu ketika ada kesempatan akan menggondol uang rakyat. Nasionalisme juga tidak menjadi seorang publik figure yang berteriak lantang menyuarakan kebenaran, mengeritik karena ada kepentingan-kepentingan tertentu dalam hal meraih kekuasaan dengan mengorbankan pihak-pihak tertentu. Nasionalisme lebih bertendensi kepada menyiapkan diri sebagai insan mandiri tampa terlalu banyak  berharap kepada pemerintah dengan ide dan kreasi yang terbukti demi mengisi kemerdekaan yang telah matia-matian diperjuangkan oleh moyang bangsa ini. Mereka berpesan “Perjuanganku tak  terlalu sulit karena berhadapan dengan penjajah, akan tetapi perjuanganmu akan menjadi lebih sulit karena berhadapan dengan penjajah dari golonganmu sendiri”.

 

Kembali kepada permasalahan bagaimana bisa sukses untuk “Berbangga menjadi anak Indonesia” harus dipandang bukan dengan sebelah mata. Hal ini akan menjadi sangat sulit ketika kekecewaan berat muncul sebab pemimpin demi pemimpin yang terpilih belum ada yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih percaya diri dimata Internasiaonal. Pemimpin yang mampu mengayomi rakyatnya dengan penuh kasih, sanggup menciptakan suasana agar rakyat tidak hanya berkemampuan untuk bikin ribut dll…. dll! Kasus TKI yang tak kunjung usai menjadi satu bukti bahwa rentetan sejarah pemerintah kita belum tampil pada level sebagai figure  father yang mumpuni.

 

Disadari memang, kita adalah keluarga yang terlalu besar. Sangat besar. Sehingga kita butuh waktu yang tidak sedikit untuk mencapai pemerataan kemakmuran sesuai dengan yang diamanatkan UUD 1945. Namun lagi-lagi kita harus sangat kecewa karena duit kita hampir 25% digondol maling-maling berdasi disetiap tahunnya.

 

Akankah saya mengatakan ini karena saya sendiri belum mendapat kesempatan untuk melakukan itu? Mungkin saja! Sebab para mahasiswa yang semenit sebelumnya lantang berteriak dijalanan membela kepentingan ‘Wong Cilik’ pada akhirnya ikut mengeruk kekayaan rakyat setelah mereka duduk sebagai bagian dari pelayan masyarakat.

 

Lalu jika begini keadaannya akan kemana dan menjadi apa bangsa ini kelak? Akankah “Ia akan tenggelam” seperti cebisan pidato Kakek Karno… Atau “Tidak” seperti yang dikatakan SBY dalam iklannya…..? Bukan waktu! Tapi Kita jualah yang akan memberikan jawabnya.

 

Ketidakbecusan saya untuk tulus berbangga menjadi Anak Indonesia bukan berarti saya tidak mencintai Indonesia. Ketika Australia bertingkah seolah ingin mencabar nyali bangsa ini, saya naik darah. Saya juga marah. Malaysia, ketika negeri serumpun itu jua pamer kekuatan dan seperti ingin mencoba daging-daging kita yang kelihatan tak bergizi, saya gerah dan sungguh, masih dendam hingga sekarang. Walau mungkin diluar itu Roti, saya tetap memilih KTP Indonesia meskidisini hanya ubi.

 

Kepada para pejuang yang telah membawa bangsa ini bebas dari penjajah, ya Allah…. Tahtakanlah mereka di ridhaMu yang paling tinggi. Kepada para perampok uang rakyat, ya Rabb….  Mohon tenggelamkan mereka sekarang juga!

 

Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita. Merdeka dan jayalah negeriku!

 

 

 

 

 

3 Responses leave one →
  1. 2008 August 25

    jadi benarkah kita telah merdeka??

  2. 2008 August 26

    Menurut Aku belum Mas Hangga…. Masih jauh dari makna yang sedetulnya diharapkan

  3. 2008 August 27

    Kapankah kita akan merdeka yang sebenar2nya ?

    kalau kita sepertinya selalu terkekang :roll:

    salam kenal :)

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS