M.K.M

2008 August 6
by dhianofie


M.K.M, mungkin baru anda dengar…. Tapi coba cari di Google atawa Wikipedia mungkin ada singkatan-singkatan lain yang kebetulan sama. Ini lain dan merupakan sebuah kata sandi yang digunakan oleh sekumpulan anak muda dikampung beberapa tahun silam. Cerita ini dulu sempat tertulis dihalaman sebuah Surat Kabar. Juga diacara lelucon sebuah Radio setempat, Radio Idola.

Sebut saja Aweng, seorang muda, pengangguran murni yang kerjaannya manjangin kuku, kulu kilir -meminjam orang Melayu punya cakap- akan tetapi boleh dibilang ia seorang kepala suku bagi sekelompok kaum muda di kampungnya.

Pada suatu malam dengan langkah parlente, slumber dan biasa….dengan tampang cueknya, ia menghampiri sebuah perempatan jalan dimana semua anak buahnya nongkrong menunggu perintahnya. Sesampainya disana, Amin, salah seorang anak buah yang bulu alisnya tak ada alias habis berguguran karena konon ia adalah seorang pencari solusi bagaimana menjadi orang kaya halal dalam sekejap menyambutnya.

“Ada program malam ini bos?” ia bertanya.
Sembari menghisap rokoknya, Aweng yang ternyata masih keponakan Amin menjawab lirih dan terkesan tak bersemangat “Aku lagi gak ada ide malam ini”
“Dari pada gak ada acara bos, yaa paling ringan M.K.M aja dech” Ayung si hidung mancung nyeletuk.
“Ia bos, lagian haus nih. Minum si miras tak boleh lagi sama Pak RT” Gunatre ikut ngusung usul seraya melepas gitarnya dipangkuan si Amin.
“Ok” Aweng sang kepala suku berujar.
“Huuu yess” Amin
“MantabZ” Ayung
“M.K.M, M.K.M, M.K.M….” si botak yang sejak tadi hanya diam teriak-teriak kegirangan.

Aku yang kebetulan mengisi bensin eceran diseberang jalan depan rumahnya Pak Haji M. Noor diam-diam mendengar obrolan mereka. Namun bingung. Bertanyalah diriku apa itu M.K.M? tapi tentu mereka tak sedikit pun melirikku karena aku hanya bertanya dalam hati. Penasaran, aku membuntuti Tiga buah motor yang mereka tunggangi.

Sekitar 500 meter meninggalkan perempatan jalan tadi mereka berhenti. Suasana malam memang sangat mendukung buat keluyuran dimalam hari. Rembulan bersinar terang. Hamparan berhektar-hektar tanaman tembakau yang terjejer sangat rapi, sepoinya angin, puluhan pokok kelapa yang berbaris indah melambaikan daunnya dan tentu…. yang paling asyik adalah kebebasan sebagai anak-anak muda yang mau kemana saja tiada yang akan menembak perut mereka.
Saat itu hingga juga sekarang aku belum sempat mempelajari bagaimana menjadi Intel / Detektif yang jitu. Tak ayal aku tak bisa lari dari pantauan mereka…. Aku ketahuan!
“Mau kemana coy” Ayung menanyaiku
“Emmm gak ada sih, tadinya mau pulang tapi gak jadi habisnya, aku penasaran denger kalian bilang M.K.M, M,K.M. So kalau boleh tau M.K.M itu apaan sih?” tanyaku
“Ooo…. itu. Tiada lain dari syarat untuk menghentikan penasaran itu adalah ikut gabung bersama kami” pimpinannya menjawabku.
“Bukan cuma itu Bos, sandi itu bos bilang hanya kita kita yang boleh tau. Belum ada perubahan UU-nya kan? Ayung memang rada intelek.
“Ok, Dua syarat, jangan sampai istilah itu jatuh ke tangan orang-orang berwatak baik, ya misalnya Bpk. Kapolsek, Kapolres sampai Kapolri dan juga Pak RT” Aweng seolah mengultimatum.
“Ok meeen ok” teriakku mengadaptasikan diri.
“Botak, kau jaga motor! Yang lain ikut aku”

Kami berjalan menyusuri pematang sawah selebar dua meter yang sudah mulai dibasahi embun. Aku berjalan diurutan paling belakang. Hati masih bertanya-tanya. Hingga akhirnya sampailah ‘rombongan malam’ itu dalam sebuah kebun yang dipenuhi belukar. Disitu berdiri hampir 50-an pokok kelapa. Gelap membuat suasana terasa angker. Dingin.

“Siapa yang manjat?” Amin
“Siapa lagi kalau bukan yang punya ide pertama kali” Ayung si hidung mancung.
“Ya” Aweng memastikan

Aku masih bengong. Kurang nangkap. Baru mendapat Ilham(?) setelah si Amin menyingsing celana penjangnya dan memulai memanjat salah satu pokok kelapa didepan kami.
“Gak usah banyak-banyak. 10 buah saja. Hitung Yung!” ucap Aweng sambil menarik tanganku menjauh.

“Jadi M.K.M itu apaan Weng?” bisikku
“Maling Kelapa Muda” bisiknya
“Oooooooooooooooooooooooo…..”

Tak lama suara Ayung sudah terdengar pada hitungan kelima.

“Enam………
“Tujuh………
“Delapan……

Senyap. Belum ada suara kedebum dari kelapa muda yang jatuh yang bakal dihitung Ayung. Padahal tinggal 2 buah lagi dari target yang direncanakan.
“Baru Delapan Miiiin! Dua lagi. Ayoooo…. Kamu pasti bisaaaaa” Ayung si tukang hitung setengah berteriak.
“Iyyak…………. Sembilan Miiin. Satu lagi bro….”
Sunyi kembali mencekam agak lama. Membuat Ayung geram dan tak bisa menahan suaranya.
“Sembilaaaaaaaaaaaaaaaan!!!!” teriaknya keras.
“Yuung…. Ayuung….” Terdengar suara sangat samar memanggil namanya membuat teriakan Ayung terhenti.
“Tega kamu Yung…. Aku jatuh masih juga kau hitung!”

3 Responses leave one →
  1. 2008 August 9
    agungekanugraha permalink

    numpang baca aja y…

  2. 2008 August 9

    Yuk mariiii

    Suwon kang……

  3. 2008 November 23

    dengan para pemain, Muh. Mabrur Hadie, Amin, Munawar, onCe dan satu kanak Monjet yang saya lupa namanya. kayaknya gitu tak?

    salam sasak!

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS